Menikmati ‘Masjid Terletak di Atas Awan’ Milik Sunan Muria di Kudus

asjid-peninggalan-sunan-muria-yang-berada-di-puncak-pegunungan-tepatnya-desa-colo-kecamatan-dawe-kabupaten-kudus
asjid-peninggalan-sunan-muria-yang-berada-di-puncak-pegunungan-tepatnya-desa-colo-kecamatan-dawe-kabupaten-kudus

Masjid yang diwariskan oleh Sunan Muria atau Raden Umar Said sangat menarik karena berlokasi di puncak Pegunungan Muria. Masyarakat sering menyebutnya sebagai ‘Masjid Terletak di Atas Awan’. Bagaimana penampilannya? Masjid Sunan Muria terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Wisatawan atau peziarah biasanya menggunakan ojek dari pangkalan Desa Colo untuk mencapai puncak Makam Sunan Muria.

Bagi yang tidak menggunakan ojek, pengunjung dapat mencapai puncak Masjid dan Makam Sunan Muria dengan menaiki ribuan anak tangga. Sunan Muria merupakan salah satu tokoh penyebar Agama Islam di Jawa.

Baca Juga : Antaboga Banyuwangi: Destinasi Religi Multikultural di Hutan Gunung Raung

Hingga saat ini, Masjid yang didirikan perancatoto oleh Raden Umar Said masih digunakan oleh masyarakat untuk beribadah. Masjid ini bersebelahan dengan makam Sunan Muria, sehingga sering dikunjungi oleh peziarah.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur, menjelaskan bahwa Masjid Sunan Muria dikenal sebagai tempat yang ‘terletak di atas awan’ oleh banyak orang. Hal ini disebabkan oleh ketinggian masjid tersebut, yaitu sekitar 800-1.000 mdpl. Terlebih lagi, lokasinya berada di puncak Pegunungan Muria.

“Pada akhirnya, masjid itu dibangun dan beliau mendirikan masjid yang sederhana ini. Tempat ini berada pada ketinggian sekitar 800 mdpl. Luas tanahnya mencapai 19 ribu meter persegi, dan jika dilihat dari atas, masjid itu benar-benar ‘di atas awan’,” ujar Mastur saat ditemui di lokasi, pada Senin (11/3/2024).

Sejarah Masjid Sunan Muria Mastur menjelaskan bahwa terdapat banyak cerita sejarah mengenai asal-usul Masjid Sunan Muria. Salah satunya adalah cerita bahwa Sunan Muria datang ke Colo mengikuti seekor kerbau. Kerbau itu membawa Sunan Muria hingga ke puncak gunung.

Di puncak tersebut, Sunan Muria kemudian membangun masjid untuk kegiatan ibadah masyarakat setempat pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi.

“Ada banyak cerita bahwa Sunan Muria datang ke sini mengikuti seekor kerbau, dan kemudian berhenti di pataka, yaitu balkon tertinggi,” jelas Mastur.

Di tempat inilah Sunan Muria mengumpulkan material dan membangun masjid yang indah dan bersinar. Bangunan ini membuat warga sekitar kagum dan memuji. Namun, masjid itu kemudian dirobohkan oleh Sunan Muria.

Sunan Muria berpendapat bahwa dia ingin membangun masjid untuk beribadah, bukan untuk mendapatkan pujian. Oleh karena itu, Sunan Muria membangun masjid kembali dengan kondisi yang lebih sederhana. Masjid inilah yang masih dipercayai oleh masyarakat hingga saat ini.

“Pertama-tama, beliau mendirikan masjid yang sangat bagus, dan terlihat cahayanya dari kejauhan, sehingga warga heran melihat masjid Sunan Muria yang bersinar. Namun, Sunan Muria merasa tidak nyaman karena dia ingin membangun masjid untuk menyebarluaskan Agama Islam, bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia,” jelasnya.

Ciri Khas Bangunan Masjid Sunan Muria Lebih lanjut, Mastur menjelaskan bahwa bangunan masjid yang didirikan oleh Sunan Muria memiliki beberapa keunikan. Salah satunya adalah bentuk pengimaman atau mihrab masjid. Menurutnya, mihrab ini menjorok ke dalam, sementara biasanya mihrab berjorok ke luar. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan manusia agar lebih memprioritaskan akhirat dan spiritualitas.

“Saat ini, satu-satunya sisi masjid yang masih asli adalah pengimaman dengan ornamen. Pengimaman biasanya berjorok keluar pada masjid biasa, namun ini berbeda. Hal ini mengingatkan manusia, terutama para pengikut Sunan Muria, untuk lebih memprioritaskan aspek spiritualitas dan akhirat, karena hidup di dunia ini hanya sementara,” jelasnya.

Mastur melanjutkan, ada pula ornamen seperti mangkuk yang terdapat di mihrab. Mangkuk ini melambangkan pesan untuk bersedekah. Sunan Muria meminta agar warganya tidak memagari rumah mereka dengan tembok atau kayu, melainkan dengan mangkuk. Ini melambangkan pentingnya bersedekah kepada sesama tetangga.

“Selain itu, terdapat juga ornamen lainnya, seperti wadah makanan dan bunga. Bunga ini adalah bunga wijaya kusuma, dan mangkuk ini adalah pesan dari Sunan Muria agar rumah kita tidak dipagari dengan dinding, melainkan dengan mangkuk. Ini artinya kita harus saling bersedekah kepada tetangga. Jika kita memiliki rezeki, maka kita harus memberikan kepada tetangga kita, dan hal ini juga membantu menjaga keamanan di lingkungan tempat tinggal,” terangnya.

Selain itu, di mihrab terdapat tulisan Arab yang merupakan wirid dari Sunan Muria. Lafal wirid ini diucapkan oleh warga setiap bulan sekali.

“Selanjutnya, ada juga Asmaul Husna di mihrab. Ini adalah wiridan Sunan Muria, dan kami melaksanakannya sekali sebulan di sini, untuk mendapatkan berkah dari Sunan Muria,” ungkapnya.

Sementara itu, bangunan masjid ini terlihat sederhana. Terdiri dari saka atau tiang masjid yang terbuat dari kayu, dan dinding yang juga terbuat dari kayu. Masjid ini digunakan oleh warga untuk beribadah sehari-hari.

“Masjid ini berada di puncak, dengan makam Sunan Muria di belakangnya. Di bawahnya terdapat makam putranya, dan di bawahnya lagi terdapat makam putrinya. Selain itu, terdapat pula makam para sahabat. Di luar masjid, terdapat makam keturunan Sunan Muria,” tambah Mastur.

Sumber : DetikJateng

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *