Tongkat KH Wahid Hasyim dan Riwayatnya Bisa Dilihat di Museum Ini

museum-kh-hasyim-asyari-yang-menyimpan-sejumlah-koleksi-salah-satunya-tongkat-milik-pendiri-nu-tersebut
museum-kh-hasyim-asyari-yang-menyimpan-sejumlah-koleksi-salah-satunya-tongkat-milik-pendiri-nu-tersebut

Tongkat Kiai Wahid Hasyim Asy’ari dan berbagai koleksi terkait penyebaran Islam di Nusantara dapat ditemukan di Museum Islam Indonesia KH Wahid Hasyim (Minha) Jombang.
Tongkat tersebut diyakini menjadi lambang restu dari guru beliau untuk mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Saat ini, beberapa barang kenangan KH Wahid Hasyim dipamerkan di ruangan khusus di Minha.

Koleksi tersebut meliputi tongkat kayu, kursi, centong nasi, dan kitab kuno. Tongkat KH Wahid Hasyim menjadi salah satu pusat perhatian.

Koordinator Minha, Bambang Wicaksono, menjelaskan bahwa tongkat tersebut yang dipamerkan saat ini adalah replika. Tongkat tersebut terbuat dari kayu jati dengan panjang 87 cm, diameter atas 2,5 cm, dan diameter bawah 1,4 cm.

Baca Juga : Masjid Unik di Probolinggo, Berbentuk Kubah tanpa Dinding

“Tongkat asli hanya dipamerkan saat Minha diresmikan oleh Presiden pada 2018. Setelah itu, digantikan dengan replika karena alasan keamanan,” ungkap Wicaksono.

Menurut Wicaksono, koleksi kitab kuno milik KH Wahid Hasyim juga menarik perhatian. Kitab-kitab ini dipinjam dari perpustakaan Ponpes Tebuireng, pesantren yang didirikan oleh KH Wahid Hasyim. Beberapa kitab tersebut memiliki tulisan tangan langsung dari KH Wahid Hasyim.

“Ada catatan-catatan kecil yang ditulis langsung oleh KH Wahid Hasyim di dalam naskah-naskah tersebut. Jika diteliti, catatan-catatan ini memberikan gambaran tentang pemikiran KH Wahid Hasyim pada masa itu,” jelasnya.

Saat ini, Minha memiliki 317 koleksi terkait sejarah masuknya Islam ke Nusantara dari abad ke-11 hingga ke-19 Masehi, serta perkembangan Islam di Indonesia pada abad ke-20 hingga ke-21 Masehi.

Kedepannya, Wicaksono berencana untuk menambah koleksi terkait sosok KH Wahid Hasyim dan cucunya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Tahun ini, kami berencana untuk mengumpulkan koleksi terkait KH Wahid Hasyim dan Gus Dur. Rencana kami adalah, karena museum ini juga melayani ziarah ke Makam Gus Dur, kami akan membuat ruang pamer tersendiri yang akan menampilkan informasi tentang kehidupan KH Wahid Hasyim hingga Gus Dur,” tambahnya.

Asisten Kurator Minha, Ahmad Setiawan, menjelaskan bahwa KH Wahid Hasyim memiliki beberapa tongkat untuk keperluan sehari-hari. Salah satunya adalah tongkat yang diberikan oleh gurunya, Syaikhona Kholil dari Bangkalan, Madura.

Menurut cerita, lanjut Setiawan, gagasan pendirian NU datang dari KH Wahab Chasbullah, pengasuh Ponpes Tambakberas, Jombang. KH Wahab menyampaikan ide tersebut kepada KH Wahid Hasyim yang saat itu menjadi panutan para ulama di Jawa dan Madura.

KH Wahid Hasyim kemudian meminta petunjuk kepada Allah SWT. Petunjuk datang kepadanya dalam bentuk restu dari gurunya, Syaikhona Kholil.

Guru beliau mengutus santrinya, KH As’ad Syamsul Arifin, untuk menyerahkan tongkat tersebut kepada KH Wahid Hasyim pada tahun 1923. NU didirikan 3 tahun setelahnya, yakni pada 1926.

“Jadi, tongkat ini diberikan oleh Syaikhona Kholil kepada KH Wahid Hasyim sebagai simbol restu pendirian NU,” jelasnya.

Minha juga memajang kitab kuno milik KH Wahid Hasyim. Yang menarik, beberapa kitab tersebut memiliki tulisan tangan langsung dari KH Wahid Hasyim dalam bahasa Arab pada sampul dalam kitab kuno tersebut.

“KH Wahid Hasyim mencatat bahwa beliau membeli kitab tersebut seharga Rp 6 pada tanggal 20 Jumaditsaniyah 1343 Hijriyah,” tambah Setiawan.

Jam Buka dan Lokasi MINHA
Bagi para wisatawan yang tertarik berkunjung ke Minha, lokasinya berada di kompleks yang sama dengan Wisata Religi Makam Gus Dur di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang. Museum 3 lantai ini buka setiap hari dari pukul 09.00 WIB hingga 14.30 WIB.

Koleksi di lantai 1 berisi kitab-kitab kuno perancatoto dari para ulama Nusantara, mahkota dan kipas berlapis emas, perhiasan, mata uang Islam, prasasti, pakaian, rempah-rempah yang dijual oleh pedagang Islam pada masa itu, serta porselen dan tembikar dari Banten.

Berbagai koleksi tersebut dikelompokkan berdasarkan wilayah masuknya Islam ke Nusantara dari abad ke-11 hingga ke-19 Masehi. Mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, NTT, NTB, Maluku, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.

Sementara lantai 2 berisi tentang sejarah Islam dalam melawan kolonialisme, dan lantai 3 membahas tentang Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sumber : DetikTravel

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *