Narasi Tentang Pohon Angsana di Kulon Progo, Diyakini Sebagai Tongkat Sunan Kalijaga

6 peninggalan-wali-songo
6 peninggalan-wali-songo

Kulon Progo – Sebuah pohon angsana yang besar di Kulon Progo diyakini oleh penduduk sebagai representasi dari tongkat Sunan Kalijaga. Bagaimana kisah di baliknya?

Pohon angsana, yang juga dikenal dengan nama perancatoto Sonokembang, dapat ditemukan oleh para pelancong di Dusun Semaken 1, di Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo.

Lokasinya berada di dalam area pemakaman umum, yang tepat berada di belakang masjid yang didirikan oleh Sunan Kalijaga, yaitu Masjid Jami’ Sunan Kalijaga Kedondong, atau sering disebut sebagai Masjid Kedondong.

Pohon angsana ini menonjol dibandingkan dengan tanaman lain di sekitarnya, bukan hanya karena menjadi satu-satunya pohon angsana di sana, tetapi juga karena ukurannya yang besar.

Baca Juga : Tongkat KH Wahid Hasyim dan Riwayatnya Bisa Dilihat di Museum Ini

Pohon ini hampir setinggi menara sutet dan memiliki batang yang lebarnya mencapai lebih dari 1,5 meter. Daunnya tumbuh dengan lebatnya, hampir menutupi seluruh pohon. Namun sayangnya, belum ada penelitian yang menentukan usia pohon ini.

Pohon besar ini memiliki kisah yang tidak biasa. Dipercaya bahwa tanaman ini merupakan peninggalan dari Wali Songo, tepatnya berasal dari tongkat yang ditanam oleh Raden Said, yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Imam Masjid Kedondong, Solihudin, menceritakan bahwa kisah pohon angsana ini dimulai ketika Sunan Kalijaga dan muridnya, Adipati Teroeng atau Panembahan Bodho, sedang dalam perjalanan menuju wilayah Demak, Jawa Tengah.

Ketika mereka sedang istirahat di tepi Sungai Tinalah, Semaken, Sunan Kalijaga memutuskan untuk membangun sebuah masjid. Dia memiliki keinginan agar agama Islam lebih dikenal oleh masyarakat setempat.

“Saat beristirahat di dekat Sungai Tinalah ini, Sunan Kalijaga memutuskan untuk membangun tempat ibadah agar dapat digunakan oleh penduduk desa. Oleh karena itu, Sunan Kalijaga meminta Adipati Teroeng untuk membangun masjid,” kata Solihudin saat diwawancarai di lokasi pada hari Selasa (19/3).

Sunan Kalijaga kemudian menanamkan sebatang kayu sebagai tanda awal lokasi pembangunan masjid oleh Adipati Teroeng. Setelah itu, Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanannya menuju Demak, meninggalkan muridnya untuk melanjutkan pembangunan masjid.

“Sebelum berangkat ke Demak, Sunan Kalijaga memberi tanda berupa tongkat sebagai penanda lokasi berdirinya masjid,” tambahnya.

Adipati Teroeng kemudian memulai proses pembangunan masjid karena telah mendapat mandat dari gurunya. Namun, sebelum memulai pembangunan, Adipati Teroeng memeriksa lokasi yang ditunjuk.

Setelah memeriksa, ternyata lokasi yang ditunjuk oleh Sunan Kalijaga terlalu dekat dengan sungai. Adipati Teroeng berpendapat bahwa lokasi tersebut tidak aman karena berpotensi terkena abrasi oleh sungai, sehingga ia memutuskan untuk menggeser lokasi pembangunan masjid agak lebih ke timur sejauh 100 meter dari lokasi aslinya.

“Jika kita membangun sesuai dengan patokan, ada kemungkinan bahwa lokasi tersebut akan terkena abrasi oleh aliran sungai. Oleh karena itu, Adipati Teroeng memutuskan untuk menggeser lokasi pembangunan agar lebih jauh dari sungai,” jelas Solihudin.

Masjid Kedondong telah berdiri sejak abad ke-15. Pohon angsana tumbuh di sebelah barat atau belakang masjid seiring dengan perkembangan Masjid Kedondong. Pohon ini berdiri di sekitar lokasi awal tempat pembangunan Masjid Kedondong.

Karena alasan ini, penduduk meyakini bahwa pohon angsana tersebut adalah tongkat kayu milik Sunan Kalijaga. Keyakinan ini semakin diperkuat ketika mereka mengetahui bahwa hanya ada satu pohon angsana di lokasi tersebut.

“Jadi, tongkat yang ditanamkan oleh Sunan Kalijaga tumbuh menjadi pohon angsana. Yang uniknya, pohon ini tidak berkembang biak; di sini hanya ada satu pohon, yang berada di belakang masjid,” tutup Solihudin.

Sumber : DetikTravel

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *