Kisah Sebuah Masjid Tua di Blora: Sudah Berusia 250 Tahun dan Pernah Dipindahkan 5 Kilometer Jauhnya

masjid-baiturrohman-yang-berada-di-komplek-makam-keluarga-tirtonatan-desa-ngadipurwo-kecamatan-blora
masjid-baiturrohman-yang-berada-di-komplek-makam-keluarga-tirtonatan-desa-ngadipurwo-kecamatan-blora

Di Blora, terdapat sebuah masjid tua yang telah berdiri kokoh selama 250 tahun. Menariknya, masjid ini pernah dipindahkan sejauh 5 kilometer dari lokasi asalnya. Inilah kisah menarik Masjid Baiturrohman:

Masjid ini terletak di Desa Ngadipurwo, berada di dalam Komplek Makam Keluarga Tirtonatan. Jaraknya tidak lebih dari 7 kilometer dari pusat kota Blora.

Seorang ahli sejarah asal Blora, Dalhar Muhammadun, mengungkapkan bahwa awalnya masjid ini berupa surau atau langgar yang dibangun pada tahun 1774. Pendiri langgar ini adalah Bupati kedua Blora, Raden Tumenggung (RT) Djajeng Tirtonoto.

Baca Juga : Wisata Spiritual Kota Malang Layak Dikunjungi pada Bulan Ramadan

Kunjungi Juga : perancatoto

Djajeng Tirtonoto menjabat sebagai bupati selama 14 tahun dari 1768 hingga 1782. Setelah wafatnya Djajeng pada tahun 1785, langgar tersebut diurus oleh putranya, yaitu R.T. Prawirojoedo, yang juga menjabat sebagai Bupati Blora (1812-1823).

Seiring berjalannya waktu, langgar mengalami kerusakan dan pada tahun 1814, langgar tersebut direnovasi oleh R.T. Prawirojoedo.

“Awalnya, semuanya terbuat dari kayu. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut mengalami kerusakan dan diperbaiki oleh Bupati Prawirojoedo,” jelas Madun pada Kamis (21/3) yang lalu.

Beberapa dekade kemudian, langgar tersebut diubah menjadi masjid pada tanggal 19 Agustus 1894 Masehi atau 17 Safar 1312 Hijriah oleh Raden Mas Adipati Arya (R.M.A.A.) Tjokronegoro III, yang menjabat sebagai Bupati Blora pada tahun 1857 hingga 1886.

Masjid ini diakui sebagai salah satu masjid tertua di Blora dengan usia yang kini mencapai 250 tahun. Meskipun telah beberapa kali direnovasi, keaslian kayu masih tetap terjaga. Beberapa ornamen masa lalu seperti pilar kayu jati, tembok tebal, dan bedug masih terawat dengan baik.

Selain itu, terdapat mimbar khatib dan Mustaka Masjid yang berbentuk seperti mahkota raja Jawa. Sebuah prasasti kaligrafi juga terdapat di sebelah kanan pintu masuk masjid.

Hingga kini, masjid tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi tempat ibadah bagi masyarakat setempat. Selama bulan puasa, masjid ini digunakan untuk tadarusan Al-Qur’an.

Ternyata, Masjid Ini Pernah Dipindahkan Sejauh 5 Kilometer Ada versi lain dari kisah masjid tertua di Blora ini. Konon, masjid tersebut dulunya berada di Desa Purwosari dan pernah dipindahkan sejauh 5 kilometer ke Desa Ngadipurwo.

Pemindahan ini terjadi ketika bangunan masih berupa langgar. Menurut cerita, pemindahan ini dilakukan oleh seorang ulama bernama Kyai Amiruddin.

“Kyai Amiruddin adalah cucu dari Kyai Abdul Qohar Ngampel, seorang tokoh penyebar Islam di Blora pada periode yang lebih awal,” jelas Madun.

Saat dipindahkan, masjid masih berbahan kayu. Hingga saat ini, masih ada tanah kosong di Purwosari yang diyakini sebagai lokasi masjid sebelum dipindahkan.

“Terdapat tanah kosong yang diyakini sebagai bekas lokasi masjid di Purwosari. Masyarakat Purwosari masih mengenang Kyai Amiruddin, tapi lokasi makamnya belum diketahui,” tambah Madun.

Versi sejarah pemindahan masjid ini juga dikenal oleh Ketua Ta’mir Masjid Abdurrahman, Azizi Malik. Menurutnya, masjid tersebut awalnya berada di Desa Purwosari sebelum dipindahkan ke Desa Ngadipurwo.

“Menurut cerita masyarakat sekitar, masjid ini berasal dari Desa Purwosari dan dipindahkan ke Desa Ngadipurwo oleh Kyai Amirudin. Masjid ini kemudian didirikan di Desa Ngadipurwo pada tahun 1894 oleh Bupati Blora R.T. Tjokronegoro III,” jelasnya.

Masjid dipindahkan ke Ngadipurwo dan berdiri di atas sebidang tanah yang sebelumnya menjadi tempat langgar yang dibangun oleh Raden Djajeng. Menurut Azizi, bangunan masjid hingga saat ini masih terjaga keutuhannya.

“Mimbar, pilar, dan temboknya masih asli. Begitu juga bedugnya. Ada bagian-bagian yang sudah mulai rusak, seperti lampu zaman dulu, tapi mayoritas masih dalam kondisi baik,” tambah Azizi.

Sumber : DetikTravel

Kunjungi Juga : perancatoto

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *