Pohon Kantil sebagai Saksi Bisu Masjid Berusia 4 Abad di Klaten

arsitektur-masjid-roudlotuzzahidin-di-tegalarum-klaten
arsitektur-masjid-roudlotuzzahidin-di-tegalarum-klaten

Di Klaten, terdapat sebuah masjid yang diperkirakan telah berusia 4 abad. Pohon kantil yang tumbuh di depannya menjadi saksi bisu atas usia dan sejarahnya. Inilah kisahnya:

Masjid Roudlotuzzahidin, terletak di Dusun Tegalarum, Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, merupakan salah satu masjid kuno yang masih bertahan di Klaten. Konon, masjid ini didirikan sekitar tahun 1000 H atau 1581 Masehi pada masa kesultanan Pajang, Solo, hampir 443 tahun yang lalu.

Keberadaan masjid ini terlihat dari arsitektur di dalamnya. Ada empat tiang kayu jati utuh yang menjadi penopang utama bangunan masjid, meskipun temboknya kini terlihat telah direnovasi.

Atap bangunan masjid ini menggunakan kayu, dan strukturnya mirip dengan Masjid Golo dan Masjid Kajoran di sekitar kompleks makam Sunan Pandanaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat.

Baca Juga : Masjid Ini Awalnya Diperuntukkan untuk Bangsawan Jogja, Sekarang Dibuka untuk Semua Kalangan

Kunjungi Juga : scatter hitam

Di sisi utara masjid, masih ada sebuah kolam air seperti lazimnya pada masjid-masjid kuno. Meskipun tidak lagi digunakan untuk bersuci, kolam air tersebut masih dipertahankan.

Tidak hanya kolam air, ciri khas bangunan masjid kuno juga tercermin dari pohon kantil tua yang berdiri di depannya. Pohon kantil berdiameter sekitar 80 sentimeter ini telah mengelupas kulit kayunya karena usia yang sangat tua.

Meskipun begitu, pohon ini tetap kokoh berdiri di badan jalan kampung. Pengurus masjid tidak berniat untuk menebangnya karena pohon kantil tersebut menjadi saksi bisu dari sejarah masjid yang telah berusia lebih dari 400 tahun.

“Usia masjid ini sudah mencapai 400 tahun. Pohon kantil ini adalah bagian dari peninggalan sejak pendirian masjid,” ujar Penasihat Takmir Masjid, Muhammad Asrori (80), menggunakan bahasa Jawa, Sabtu (30/3) lalu.

Asrori, yang juga sesepuh masjid, mengingatkan bahwa Dusun Tegalarum dulunya hanya berupa lahan pertanian yang tidak berpenghuni. Pada tahun 1581 masa Kesultanan Pajang, Solo, seorang bangsawan meminta lokasi tersebut digunakan sebagai tempat penyebaran agama Islam.

“Bangsawan tersebut meminta diajari ngaji, lalu meminta kepada Kiai Syarifuddin di Gading Santren (Desa Belang wetan, Kecamatan Klaten Utara) untuk mengirim guru ngaji. Kemudian Mbah Kiai Ahmad Mahrom dikirim ke sini,” jelas Asrori.

Menurut Asrori, Kiai Ahmad Mahrom membersihkan lahan yang ditumbuhi ilalang untuk membangun masjid. Semakin lama, kegiatan pengajian semakin ramai, dan santri membangun rumah di sekitar masjid.

“Dari situ, para santri mulai membangun rumah di sekitar masjid, dan hingga kini, daerah ini menjadi tempat belajar ngaji, bahkan ada sekolah dan pesantren. Makam Mbah Kiai Ahmad Mahrom pun terletak di belakang masjid,” tambahnya.

Asrori menjelaskan bahwa meskipun masjid ini telah direnovasi dari struktur aslinya, pohon kantil tua tersebut tetap dipertahankan sebagai simbol sejarah.

“Pohon kantil tidak ditebang karena memegang nilai sejarah. Selain itu, bunga kantil yang banyak dan harum menjadi ciri khas tempat ini, yang dinamakan Tegalarum,” tambahnya.

Muhammad Busairi (79), penasihat masjid lainnya, menambahkan bahwa dulunya mimbar masjid berasal dari kerajaan. “Mimbar itu ada tongkatnya dan diukir, berasal dari kerajaan, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Dulu banyak orang datang ke sini karena keindahan bunga kantil,” kata Busairi.

Busairi juga mengingat masa lalu ketika kolam air masjid digunakan untuk berbagai keperluan, seperti mandi bagi orang sakit atau yang ingin mencari jabatan.

“Walaupun zaman dahulu, kolam ini sering digunakan untuk mandi orang sakit atau orang yang ingin mencari jabatan. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.

Sumber : DetikTravel

Kunjungi Juga : perancatoto

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *